fix bar
fix bar
fix bar
fix bar
fix bar
fix bar

Blog Details

image

Koyakkanlah Hatimu, Bukan Pakaianmu: Pesan RP Lucio Adrianus Engkar OFMConv pada Misa Rabu Abu di SMP-SMA Ignasius Medan

  • Holong Nainggolan, S.Kom
  • 18-02-2026

MEDAN, 18 Februari 2026 – Keluarga besar SMP dan SMA Ignasius Medan mengawali perjalanan rohani masa Prapaskah dengan merayakan Misa Rabu Abu yang khidmat. Misa ini dipimpin oleh RP Lucio Adrianus Engkar OFMConv, yang dalam kotbahnya mengajak seluruh komunitas sekolah untuk memaknai pertobatan bukan sekadar ritual, melainkan perubahan sikap yang nyata.

Pertobatan sebagai Kebutuhan Rohani Dalam sapaannya, Pastor Lucio menekankan bahwa pertobatan sangat penting bagi kebutuhan rohani agar Tuhan yang kita imani tetap hidup di dalam diri kita. Dengan bertobat, kita belajar menghargai Tuhan yang telah menciptakan setiap pribadi dengan indah, sebagai gambar Allah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Beliau mengingatkan bahwa tanda abu di dahi harus diikuti dengan perubahan perilaku. “Kalau sudah menerima abu nanti, berubah sikap ya. Jadilah anak Bapak dan Ibu di rumah yang baik. Jadilah siswa-siswi SMP-SMA Ignasius yang baik,” pesan beliau. Beliau bahkan memberikan sentuhan refleksi praktis mengenai kedisiplinan, seperti menaati lampu merah saat berangkat sekolah sebagai bentuk tanggung jawab hidup bermasyarakat, agar tidak hidup semrawut seperti di hutan.

Menata Hati untuk Masa Depan Mengambil inspirasi dari tema Prapaskah, Pastor Lucio mengajak para siswa untuk “mengoyakkan hati, bukan pakaian”. Beliau menjelaskan bahwa pakaian mudah rusak, namun menata hati memiliki dampak jangka panjang. Hati yang ditata dengan baik akan melahirkan pikiran, tindakan, dan sikap yang baik pula.

Dampaknya sangat terasa dalam kegiatan belajar-mengajar: jika hati siswa ditata dengan benar, mereka akan mampu mendengarkan guru dengan baik, sehingga materi pelajaran dapat dicerna dan dipraktikkan dengan maksimal. Selain itu, hati yang tertata akan membuat siswa lebih patuh dan hormat kepada orang tua di rumah.

Puasa yang Nyata: Solidaritas dan Aksi APP Pastor Lucio juga memberikan arahan konkret mengenai makna puasa dan pantang, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan bersolider dengan sesama. Beliau memberikan beberapa tips praktis bagi para siswa:

• Menghargai Makanan: Berhenti membuang-buang makanan yang telah disiapkan orang tua. “Sampaikan kepada orang tua jika porsi yang diberikan terlalu banyak, agar tidak ada sisa yang terbuang,” ujar beliau.

• Gerakan Celengan APP: Siswa diajak untuk menyisihkan sebagian uang jajan secara rutin. Beliau memberi contoh, jika dari uang jajan Rp10.000 disisihkan Rp2.000 setiap hari ke celengan APP, maka dalam 40 hari akan terkumpul Rp80.000 yang sangat berarti untuk membantu sesama yang membutuhkan di paroki maupun di dunia.

• Berhenti Mengomel: Pertobatan juga berarti berhenti melawan atau mengomel kepada orang tua, sesuai dengan perintah Allah untuk menghormati ayah dan ibu.

Guru sebagai “Portal Kedua” Kepada para guru dan pegawai, Pastor Lucio memberikan penguatan bahwa panggilan mendidik di SMP-SMA Ignasius adalah panggilan yang mulia. Beliau menyebut bapak dan ibu guru sebagai “portal kedua”—pemegang tanggung jawab penuh atas siswa sejak mereka masuk hingga keluar dari lingkungan sekolah. Beliau mengajak seluruh staf untuk terus berjalan bersama, memberikan yang terbaik, dan bekerja sama dengan siswa dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan.

Misa Rabu Abu ini diakhiri dengan harapan agar selama 40 hari ke depan, seluruh keluarga besar Ignasius Medan senantiasa didampingi dan diberkati Tuhan dalam menjalani masa puasa dan pantang. Amin.

Tinggalkan Komentar